Minggu, 28 September 2014

10 Penyebab Kegemukan selain Pola Makan


1.    Kurang Tidur
    Pertama, Makin sering Anda begadang makin sering pula Anda ngemil di malam hari yang berakibat pada    bertambahnya ekstra kalori yang diasup.
Kedua adalah yang berkaitan dengan zat kimia dalam tubuh. Saat kita begadang, hormon yang memicu nafsu makan akan dikeluarkan, akibatnya kita akan merasa kelaparan saat bangun tidur. Hormon ini juga membuat perut tidak pernah merasa kenyang.

2.     Stress
     Saat kita didera berbagai persoalan sehari-hari dan juga kesibukan, tubuh akan beradaptasi dengan cara mengeluarkan hormon kortisol atau hormon stres. Hormon ini bisa meningkatkan nafsu makan sehingga tak heran bila saat dikejar deadline atau sedang stres, kita akan mengasup lebih banyak makanan.

3.     Pengobatan Medis
      Sekarang sudah banyak pengobatan yang memiliki efek samping yang menggemukkan tubuh. Beberapa jenis obat seperti anti-depresan, Pizotifen (obat migrain), obat-obatan untuk diabetes dan bera-blockers (tekanan darah tinggi) kerap menjadi salah satu faktor penyebab kegemukan.


4.    . Polusi & Radikal Bebas
       Menurut hasil studi yang dilansir Critical Reviews in Food Science ang Nutrition, polusi bisa memengaruhi metabolisme tubuh. Zat-zat berbahaya seperti endocrine (zat kimia yang terdapat pada plastik) dan sisa pembakaran sampah yang ditemukan dalam tubuh manusia, sering dihubungkan dengan obesitas. Begitu juga dengan zat yang terdapat dalam pestisida. Zat-zat ini mengganggu sistem kerja dan menghambat metabolisme.

5.     Amandel
    Para peneliti menemukan bahwa anak-anak yang amandelnya telah dikeluarkan (di operasi pengankatan) lebih banyak mengalami kenaikan berat badan setelah operasi ketimbang dari anak-anak yang tidak operasi amandel.
Peningkatan berat badan dan indeks massa tubuh (BMI) bisa dilihat sampai tujuh tahun setelah operasi. BMI meningkat sebesar 5,5 persen menjadi 8,2 persen setelah operasi. Menurut peneliti hal ini karena operasi yang mengurangi masalah kesehatan lain yang dibawa oleh tonsilitis mungkin dapat meningkatkan nafsu makan anak.

6.    Konsumsi Makanan / Susu yang Berlemak Tinggi saat Hamil
       Para peneliti menemukan bahwa ibu yang mengonsumsi makanan tinggi lemak saat hamil dapat menyebabkan plasenta memberikan nutrisi terlalu banyak untuk janin, sehingga dapat menyebabkan bayi lahir dengan berat badan besar yang merupakan faktor risiko obesitas di kemudian hari

7.    Perubahan Hormon
    Menurut Dr C. W. Randolph, seorang ginekologis dan apoteker, terlalu banyak estrogen bisa meningkatkan lemak. Pada usia 40-an ke atas, tubuh menjadi agen 'penyimpan lemak' yang baik, tapi kemampuannya mengubah lemak jadi energi berkurang. Sehingga yang terjadi adalah, tubuh menggemuk karena penumpukan lemak berlebih.


8.     Metabolisme Menurun
    Setelah usia 30, metabolisme tubuh melambat hingga hampir 5% setiap 10 tahun. Tubuh membakar 100 kalori lebih sedikit/harinya dibandingkan saat masih berusia 25. Pembakaran akan semakin berkurang hingga 200 kalori, menjelang usia 45 tahun.
Untuk mengatasinya, cobalah membuat tubuh lebih aktif secara fisik. Gabungkan latihan angkat beban dalam rutinitas olahraga Anda, minimal dua kali sehari. Latihan ini berfungsi membangun massa otot yang akan meningkatkan metabolisme. Otot, bisa membakar 25 hingga 33 kalori lebih banyak dibandingkan lemak tubuh.

9.     Olahraga yang Salah
    Jika Anda melakukan gerakan olahraga yang sama dalam periode terlalu lama, tubuh akan beradaptasi dengan gerakan tersebut. Akibatnya, latihan tidak lagi memberi hasil maksimal pada tubuh Anda dibandingkan saat awal-awal latihan dulu. Gerakan-gerakan olahraga yang dilakukan di tempat fitnes biasanya hanya bermanfaat dalam jangka pendek.

10.    Gen ( Orang akan terkena penyebab ini jika 9 penyebab yang diatas telah dilakukan.)
      Para ilmuwan mengidentifikasi terdapat 18 penanda genetik baru yang dapat berperan dalam obesitas, dan 13 penanda baru yang dapat menentukan apakah lemak ditumpuk di sekitar pinggang atau pinggul. Penanda tersebut ditemukan pada gen-gen yang sebelumnya tidak terhubung dengan obesitas. Belajar dari apa yang dilakukan gen ini, para ilmuwan dapat menemukan penyebab obesitas pada orang yang berbeda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar